Bersabarlah Hingga Musim Semi Itu Tiba

Bukankah musim semi itu tiba setelah musim hujan? Bukankah purnama itu mempesona dengan gulitanya malam? Maka bangkitlah, hiburlah hati dengan Al-Qur’an

Haru-Musim-semi-di-Jepang

Maha Suci Allah yang telah menciptakan satu hati dalam rongga dada manusia, dan cukuplah untuk dikatakan seseorang itu berdusta jika dia mengatakan bahwa dia mempunyai dua hati dalam rongga dadanya. Allah ta’ālā hanya menciptakan satu hati saja untuk manusia, dan terkumpul di dalamnya rasa bahagia dan rasa sedih. Dua hal yang akan selalu menyertai manusia di dunia dan menjadi ujung kehidupan di akherat kelak.

Ketika kebahagiaan itu datang, hati itu akan menari bersama bibir yang akan selalu menyungginggkan senyum, namun ketika hati itu bersedih, tentu hanya kepada Penggenggam hati tempat untuk mengadu.

Jangan bersedih…

 وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. ‘Ali ‘Imran : 139).

Dalam ayat tersebut, Allah ta’ālā melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bersikap lemah dan bersedih hati ketika tertimpa musibah dan ketika diuji dengan sebuah ujian. Sesungguhnya kesedihan di dalam hati dan lemahnya badan hanyalah akan menambah musibah dalam jiwa dan merupakan senjata ampuh bagi musuh-musuh orang mu’min, dan sebaliknya menguatnya hati dan kesabarannya untuk menolak kesedihan itu adalah kekuatan untuk menghancurkan musuh.

Tidak seharusnya seorang muslim itu bersikap lemah dan bersedih hati, karena mereka adalah orang-orang yang paling tinggi keimanannya dan harapan mereka terhadap balasan dari Allah sangat besar. Maka tidak sepantasnya seorang mu’min yang mengharapkan balasan akhirat dan juga dunia yang telah dijanjikan oleh Allah, untuk bersedih dan lemah (Taisiru Karimir-Rahman).

Sesuatu yang telah digariskan…

Bukanlah kita tidak boleh bersedih hati, merasa kecewa dan tersakiti, bahkan hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah.

Dalam sebuah potongan hadits, Rasulullah bersabda:

ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح، ويؤمر بأربع كلمات: بكتب رزقه، وأجله، وعمله، وشقي أم سعيد

“. . . Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan dan kebahagiaannya . . .”

Bukan berarti seorang hamba itu dipaksa untuk menjalani takdir ini, tetapi hal itu menunjukkan bahwa keilmuan Allah itu mencakup segalanya, termasuk kebahagiaan dan kesedihan seorang hamba. Semuanya telah diketahui oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa (Syarah hadits ar Ba’in).

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. an-Najm: 40-44).

Syaikh Sa’di menjelaskan ayat tersebut dalam tafsir Karimir Rahman, bahwa Allah lah yang menjadikan sebab seseorang itu tertawa dan juga menangis, yaitu kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesedihan serta kegalauan dan kesedihan. Dan Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai hikmah yang sempurna di dalamnya.

Bersabarlah…

Jika kita tidak pernah merasa sedih kita tidak akan merasakan nikmatnya kebahagiaan, jika kita tidak pernah merasa kecewa dengan sesuatu kita tidak akan bisa bersyukur dengan sepenuhnya ketika kita bisa meraih impian kita. Jika kita tidak pernah merasa tersakiti kita tidak akan pernah merasa betapa amat sangat butuhnya kita kepada Penggenggam hati para manusia yang menciptakan segala sesuatu itu tentu mengandung hikmah yang sangat besar. Tidaklah Allah itu menciptakan kebahagiaan kecuali ada kesedihan yang menjadi lawannya, sebagaimana Allah menciptakan arah timur dan barat dengan bukan tanpa hikmah apapun.

Jadikanlah semua itu sebagai cambuk hati untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabb yang hati kita itu berada di antara jari-jemariNya. Tetap bersabar dengan kesabaran yang indah dalam setiap perkara yang dihadapi, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersabar dan akan memberikan balasan yang manis atas kesabarannya.

Sebagaimana dalam firmanNya,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب

Artinya “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S az-Zumār:10).

Syaikh As Sa’di mengatakan, bahwa ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. Kesabaran atas taqdir Allah sehingga tidak marah dengan apa yang terjadi. Kesabaran atas maksiat dengan tidak melakukannya dan kesabaran dalam ketaatan kepadaNya dengan menunaikannya.

Allah ta’ala menjanjikan (dan janji Allah itu tidak akan teringkati, pen-) kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang tiada batas, artinya tidak ada batasan dan ukuran. Hal tersebut dikarenakan keutamaan dan kedudukan sifat sabar di sisi Allah dan hal itu selalu ada dalam setiap perkara.. (Tafsir Kariimir Rahman).

Ketika bersedih…

Ketika bersedih dan merasa putus asa, ingatlah kembali kepada cita-cita yang mungkin sedikit terlupakan dari ingatan kita, cita-cita yang mungkin telah engkau tulis dalam catatan harianmu, cita-cita yang selalu engkau sebutkan dalam do’amu. Ketika merasa kenapa Allah tidak mengabulkan do’a yang telah engkau panjatkan, ingatlah mungkin Allah telah mengabulkan do’a mu yang lain yang telah lebih dulu engkau panjatkan, karena Dia adalah Maha Pengabul do’a.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu‘anhu meriwayatkan sebuah hadis mengenai do’a yang indah yang berasal dari Rasulullah, beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba tertimpa kesedihan dan kegundahan kemudian berdo’a,

اللَّهمَّ إنِّي عبدُكَ ، وابنُ عبدِكَ ، وابنُ أمتِكَ ، ناصِيتي بيدِكَ ، ماضٍ فيَّ حُكمُكَ ، عدلٌ فيَّ قضاؤُكَ ، أسألُكَ بِكُلِّ اسمٍ هوَ لَكَ ، سمَّيتَ بهِ نفسَكَ ، أو أنزلتَهُ في كتابِكَ ، أو علَّمتَهُ أحدًا مِن خلقِكَ ، أوِ استأثَرتَ بهِ في عِلمِ الغَيبِ عندَكَ ، أن تَجعلَ القرآنَ ربيعَ قَلبي ، ونورَ صَدري ، وجلاءَ حُزْني ، وذَهابَ هَمِّي

(“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.”)

Maka Allah akan hilangkan kegundahan dan kesedihannya serta menggantikannya dengan kebahagiaan’. (HR. Ahmad I/391 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Dalam do’a di atas, disebutkan ‘…agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.’

Maksudnya adalah agar Allah menjadikan Al-Quran itu kebahagiaan dalam hati dan menjadikannya musim semi baginya. Karena manusia itu hatinya akan merasa senang, nyaman dan cenderung menyukai musim semi sehingga keluar dari kegundahan dan kegelisahan dan memperoleh semangat, keceriaan dan kebahagiaan. Dan juga menjadikan Al-Qur’an itu pelapang dada dikarenakan ketika hati kita lapang, maka hati kita akan bercahaya. Dengan dua hal tersebut maka terangkatlah kesedihan dan hilanglah keresahan (Hisnul Muslim, 211).

Bukankah musim semi itu tiba setelah musim hujan? Bukankah purnama itu mempesona dengan gulitanya malam? Maka bangkitlah, hiburlah hati dengan Al-Qur’an dan tambatkanlah hati ke Dzat yang tidak akan pernah rapuh dan menyia-nyiakan harapan. Bersabarlah karena musim semi akan segera tiba..

Rabbi ij’al Al-Qurana rabii’a quluubinaa wa nuura suduurinaa wa jalaa-a ahzaaninaa wa dzahaaba humuuminaa wa as aluka al Firdaus al a’laa..

Allahu a’lam bish shawwab..

—————————————-

Penulis             : Rinautami Ardi Putri
Murajaah         : Ammi Nur Baits

#notedtomyself

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: