girls of riyadh VS laskar pelangi

Sewaktu abi pergi, jadi banyak waktu luang buat umi, apalagi setelah khansa bobo, sepi g ada yang dikerjain, akhirnya memulai hobby lama yaitu baca..

Alhasil udah hampir 2 buah buku tebal yang habis dibaca, diantaranya The Girls of Riyadh-TGOR (ni udh selesai)

versi 1

versi 1

2

2

3

3

4

4

versi Indonesia

versi Indonesia

yg satunya Laskar Pelangi-LP, kalo yg ini ni, umi bacanya udh 1 1/2 kali ini, habisnya yang kemaren bacanya bagi 2  sama abi alias barengan sm waktu abi baca, jd ngalah deh, baru dapet separo trus males gitu, trus umi malah jd berpikir laskar pelangi g bagus ah, terlalu bertele-tele kisahnya, terlalu dibuat-buat gitu, pasti buku2 karya andrea hirata yg lain g kalah membosankannya piker umi saat itu, end then berbulan-bulan kemudian yaitu minggu2 ini disaat sepi melanda dan membaca menjadi pelarian umi, umi mencoba kembali membaca laskar pelangi, berubung rekomendasi temen2 sangat banyak,trus sering juga liat abi baca bolak balik berulang2, jadi umi pikir g ada salahnya memulai lagi baca dari awal. Mungkin kmrn ada yang terlewat atau g konsen jadi umi kurang menghayatinya…

Tetet…ternyata setelah separoh buku lebih, tak dapat dipungkiri buku ini memang bagus, acungan jempol untuk pengarangnya, bagus banget, sangat inspiratif, ternyata kalo dibaca secara mendalam mengandung pesan2 yang g kerasa masuk ke dalam diri kita,…

Umi baru sampe halaman 330an yang habis babnya tentang FLO yan g hilang, ni udah gatel rasanya jari2 ini pengen buka buku itu, membaca isinya dan ikut hanyut ke dalam cerita sepuluh bocah2 belitong.

cover 1

cover 1

cover the movie

cover the movie

hard cover

hard cover

Sebenernya TGOR dan LP punya kesamaan yaitu sama2 kisah nyata dan tema yang diusung sama2 mengenai persahabatan. TGOR bercerita tentang seseorang yang mengirimkan email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup on line di Saudi Arabia setiap minggu pada hari Jumat, isinya mengenai kehidupan persahabatan 4 orang gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim dan Lumeis. Di akhir cerita umi bertanya-tanya sendiri diantara ke-4 gadis tersebut, manakah yang menjadi tokoh dari si penulis itu sendiri?kalau menurut saya penulis berperan sebagai Lumeis di dalam cerita ini, mungkin se-perfect itulah hidupnya, habis dia sendiri si yang nulis, hehe…kalau menurut anda siapa temans?

Jadi kesimpulannya, kalo membandingkan 2 buku diatas, ternyata penulis2 kita tak kalah dengan para penulis luar negri yang konon bukunya sudah menjadi #1 international best seller dan hak terjemahannya terjual lebih dari 25 negara, wow (heemm, mungkin karena isinya yang kontroversial jadi booming, g seru ah). Malah penulis2 kita jauhhh lebih baik dari mereka. Beneran lho..

Makanya kita sebagai bangsa Indonesia jangan malu dengan budaya kita, kita harus bangga dengan potensi yang kita miliki, punya adab ketimuran, orang mereka aja orang2 barat malah pengen seperti kita ko,..

Yo wis, yang penting terus belajar belajar dan belajar karna Allah menjanjikan akan menaikkan derajat orang2 yang berilmu, amiin



No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: