CATATAN ATAS ZAKAT PROFESI

Diambil dari milist, semoga bermanfaat buat kita yang selama ini salah mengartikan zakat profesi (dibaca:infaq/sodaqoh), afwan jiddan bila ada yang kurang berkenan. Tapi insya Allah sumber jelas (artinya:sesuai dengan Al Quran dan Assunnah).
Siap2 mata pedih ya, soalnya penjelasannya puanjang dan harus dihayati lho..

Istilah Zakat Profesi

Istilah zakat profesi adalah baru, sebelumnya tidak pernah ada
seorang ‘ulamapun yang mengungkapkan dari dahulu hingga saat ini,
kecuali Syaikh Yusuf Qaradhowy menuliskan masalah ini dalam kitab
Zakat-nya, kemudian di taklid (diikuti tanpa mengkaji kembali kepada
nash yang syar’I) oleh para pendukungnya, termasuk di Indonesia ini.

Menurut kaidah pencetus zakat profesi bahwa orang yang menerima gaji
dan lain-lain dikenakan zakat sebesar 2,5% tanpa menunggu haul
(berputar selama setahun) dan tanpa nishab (jumlah minimum yang
dikenakan zakat).

Mereka mengqiyaskan dengan zakat biji-bijian (pertanian). Zakat biji-
bijian dikeluarkan pada saat setelah panen. Disamping mereka
mengqiyaskan dengan akal bahwa kenapa hanya petani-petani yang
dikeluarkan zakatnya sedangkan para dokter, eksekutif, karyawan yang
gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak
diambil zakatnya.
itung-itung... ;)
Simulasi cara perhitungan menurut kaidah Zakat profesi seperti di
bawah ini :

Cara I (tidak memperhitungkan pengeluaran bulanan)

Gaji sebulan == Rp 2.000.000
Gaji setahun == Rp 24.000.000
1 gram emas == Rp 100.000
Nishab == Rp 85 gram
Harga nishab == Rp 8.500.000
Zakat Anda == 2,5% x Rp 24.000.000 == Rp 600.000,-

Cara II (memperhitungkan pengeluaran bulanan)

Gaji sebulan == Rp 2.000.000
Gaji setahun == Rp 24.000.000
Pengeluaran bulanan == Rp 1.000.000
Pengeluaran setahun == Rp 12.000.000
Sisa pengeluaran setahun == Rp 24.000.000 – 12.000.000 == Rp 12.000.000
1 gram emas == Rp 100.000
Nishab == Rp 85 gram
Harga nishab == Rp 8.500.000
Zakat Anda == 2,5% x Rp 12.000.000 == Rp 300.000,-

Zakat Maal (Harta) yang Syar’i

Sedangkan kaidah umum syar’I sejak dahulu menurut para ‘ulama
berdasarkan hadits Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassallam adalah
wajibnya zakat uang dan sejenisnya baik yang didapatkan dari
warisan, hadiah, kontrakan atau gaji, atau lainnya, harus memenuhi
dua kriteria, yaitu :

1. batas minimal nishab dan
2. harus menjalani haul (putaran satu tahun).

Bila tidak mencapai batas minimal nishab dan tidak menjalani haul
maka tidak diwajibkan atasnya zakat berdasarkan dalil berikut :

[a] Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Kamu tidak mempunyai kewajiban zakat sehingga kamu
memiliki 20 dinar dan harta itu telah menjalani satu putaran haul”
[Shahih Hadits Riwayat Abu Dawud].

20 dinar adalah 85 gram emas, karena satu dinar adalah 4 1/4 gram
dan nishab uang dihitung degan nilai nishab emas.

[b] Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Dan tidak ada kewajiban zakat di dalam harta sehingga
mengalami putaran haul” [Shahih Riwayat Abu Daud]

[c] Dari Ibnu Umar (ucapan Ibnu Umar atas sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

“Artinya : Barangsiapa mendapatkan harta maka tidak wajib atasnya
zakat sehingga menjalani putaran haul” [Shahih dengan syawahidnya,
Riwayat Tirmidzi]

Kemudian penetapan zakat tanpa haul dan nishab hanya ada pada rikaz
(harta karun), sedangkan penetapan zakat tanpa haul hanya ada pada
tumbuh-tumbuhan (biji-bijian dan buah-buahan) namun ini tetap dengan
nishab.

Jadi penetapan zakat profesi (penghasilan) tanpa nishab dan tanpa
haul merupakan tindakan yang tidak berlandaskan dalil, qiyas yang
shahih dan bertentangan dengan tujuan-tujuan syari’at, juga
bertentangan dengan nama zakat itu sendiri yang berarti berkembang.

[Lihat Taudhihul Al Ahkam 3/33-36, Subulusssalam 2/256-259, Bulughul
Maram Takhrij Abu Qutaibah Nadhr Muhammad Al-faryabi 1/276/279]

Singkatnya simulasi cara perhitungan menurut kaidah yang syar’i
adalah penghasilan kita digunakan untuk kebutuhan kita, kemudian
sisa penghasilan itu kita simpan/miliki yang jumlahnya telah
mencapai nishab emas yakni 85 gram emas dan telah berlalu selama
satu tahun (haul), berarti harta tersebut terkena zakat dan wajib
dikeluarkan zakat sebesar 2,5% dari harta tersebut. Sedangkan jika
penghasilan kita kadang tersisa atau kadang pula tidak, maka untuk
membersihkan harta Anda adalah dengan berinfaq, yang mana infaq ini
tidak mempunyai batasan atau ketentuannya.

Contoh perhitungan yang benar :

Gaji sebulan == Rp 2.000.000
Gaji setahun == Rp 24.000.000
Sisa pengeluaran setahun setelah dikurangi pengeluaran == Rp 5.000.000
Nishob 85 gram emas == Rp 8.500.000

Maka Anda tidak terkena kewajiban zakat, karena harta di akhir tahun
belum mencapai nishab emas 85 gram tersebut.

Atau

Gaji sebulan == Rp 5.000.000
Gaji setahun == Rp 60.000.000
Sisa pengeluaran setahun == Rp 10.000.000
Nishob 85 gram emas == Rp 8.500.000

Maka Anda terkena kewajiban zakat, karena harta di akhir tahun telah
mencapai nishab emas 85 gram tersebut. Kemudian tunggu harta kita
yang tersisa sebesar Rp 10.000.000,- tersebut hingga berlalu 1
tahun. Kemudian baru dikeluarkan zakat tersebut sebesar 2.5 % x Rp
10.000.000,- == Rp 250.000,- pada tahun berikutnya.

Zakat Profesi Bertentangan dengan Zakat Maal (Harta)

Oleh karena itu ditinjau dari dalil yang syar’I maka istilah zakat
profesi bertentangan dengan apa yang pernah dicontohkan oleh
Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassallam, dimana antara lain adalah :

1. Penolakan beliau akan adanya haul. Haul yaitu bahwa zakat itu
dikeluarkan apabila harta telah berlalu (kita miliki -pen) selama 1
tahun. Padahal telah datang sejumlah hadits yang menerangkan tentang
haul. Namun hadits-hadits ini dilemahkan menurut pandangan Syaikh
Yusuf Qardhawi dengan alasan-alasan yang lemah (tidak kuat alasan
pendha’ifannya) . Karena hadits itu memiliki beberapa jalan dan syawahid.

Oleh karena penolakan ini, maka menurut Syaikh Yusuf Qardhawi,
apabila seseorang menerima gaji (rejeki) melebihi nisab (batasan)
zakat, maka wajib dikeluarkan zakatnya.

2. Dari penolakan haul ini (karena dianggap bahwa tidak ada haul),
maka Syaikh Yusuf Qardhawi mengkiyaskan dengan zakat biji-bijian.
Zakat biji-bijian dikeluarkan pada saat setelah panen.

Hal ini merupakan pengqiyasan yang salah. Karena qiyas dilakukan
karena beberapa sebab salah satunya apabila tidak ada dalil yang
menerangkan hukumnya. Padahal (sebagaimana yang telah disampaikan
secara singkat), terdapat sejumlah hadits dan atsar para sahabat
(dalil-dalil) yang menjelaskan mengenai haul.

Kemudian jikapun benar dapat diqiyaskan dengan biji-bijian
(pertanian), maka kita harus konsekuen dengan kebiasaan yang umum
berlaku dalam masalah panen biji-bijian :

a. Dimana hasil biji-bijian baru dipanen setelah berjalan 2-3
bulan, berarti zakat profesi juga semestinya dipungut dengan jangka
waktu antara 2-3 bulan, tidak setiap bulan !

b. Dimana hasil biji-bijian akan dikenakan zakat 5 %, maka
seharusnya zakat profesi juga harus dikenakan sebesar 5 %, tidak
dipungut 2.5 % !

3. Penolakan dengan akal (bukan dengan dalil). Bahwa kenapa hanya
petani-petani yang dikeluarkan zakatnya sedangkan para dokter,
eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah
melebihi nisab, tidak diambil zakatnya.

Hujjah (alasan) ini tidak ilmiah sama sekali dan tidak ada artinya.
Karena dalam masalah ibadah, kita harus mengikuti dalil yang jelas
dan shahih. Dengan demikian tidak perlu dibantah (karena Allah
memiliki hikmah tersendiri dari hukum-hukum- Nya seperti berfikir
dengan akal bahwa “kenapa warisan untuk wanita lebih
rendah?”, “mengapa air seni yang najis hanya disucikan dengan air
bersih, sedangkan air mani yang suci harus disucikan dengan mandi
janabah?”, “mengapa orang yang mencuri harus dipotong tangannya
sebatas lengan, sedangkan orang yang muhson (telah menikah) harus
dirajam bukannya dipotong alat kemaluannya? “, dan masih banyak lagi
hal yang tidak bisa hanya mengandalkan akal kita yang terbatas untuk
mengkaji hikmah ilmu dan kemulian Alloh Azza wa Jalla.

Hal ini, ketika sampai di Indonesia, ada sebagian orang yang
berlebihan dalam menghitungnya. Misalkan 1 bulan gaji == 1 Juta, maka
12 bulan gaji == 12 Juta. Maka ini telah sampai nisab, lalu dihitung
berapa zakat yang harus dikeluarkan.

Hal ini adalah salah karena tidak ada haul. Selain itu, kita tidak
mengetahui masa yang akan datang kalau dia dipecat, atau rezekinya
berubah. Atau kita balik bertanya, mengapa pertanyaannya hanya
petani, apakah jika petani membayar zakat, lantas pekerja profesi
tidak bayar zakat ? Padahal mereka tetap diwajibkan membayar zakat,
dengan ketentuan dan syarat yang berlaku.

4. Syaikh Yusuf Qardhawi mengemukakan dalam suatu zaman Umar bin
Abdul Aziz bahwa sebagian pegawai diambil gajinya 2,5% sebagai zakat.

Hal ini merupakan salah paham terhadap dalil atau atsar. Karena yang
diambil itu harta yang diperkirakan sudah mencapai 1 haul. Yakni
pegawai yang sudah bekerja (paling tidak) lebih dari 1 tahun. Lalu
agar mempermudah urusan zakatnya, maka dipotonglah gajinya 2,5%.
Jadi tetap mengacu kepada harta yang sudah melampaui mencapai nishob
dan telah haul 1 tahun saja dari gaji pegawai tersebut.

Kemudian jika dilontarkan suatu syubhat : “Bagaimana bisa mencapai
batas nishab jika gaji yang kita peroleh selalu habis kita
belanjakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan yang
sifatnya konsumtif seperti barang elektronik dan lain-lain?”

Hukum syar’I tetaplah hukum yang berlaku sepanjang zaman, yakni
zakat harta harus tetap memenuhi syarat nishab. Bila gaji itu
dibelanjakan, dan sisanya tidak memenuhi nishab, maka harta itu
belum wajib dikeluarkan zakatnya. sebagaimana hadis: “Kamu tidak
memiliki kewajiban zakat sehingga kamu memiliki 20 dinar dan harta
itu telah menjalani satu putaran haul” (Shahih,HR. Abu Dawud)

Lantas kapan zakatnya bila sisa gaji itu tidak pernah mencapai
nishab?

Jawabnya: Tidak wajib zakat pada harta yang tidak cukup nishab.
Nasehatnya adalah, bila kita merasa mampu berzakat dengan sisa uang
gaji yang sedikit, maka hendaknya disalurkan dengan bentuk shadaqoh
(yang sunnah).

Alangkah beratnya agama ini bagi orang lain yang sama kondisi
ekonominya dengan kita namun dia memiliki banyak keperluan yang
harus dia belanjakan untuk keluarganya, bila zakat harta itu tidak
memperhitungkan kewajiban nishab.

Biarlah kita yang masih gemar berinfaq ini, menyalurkannya dengan
bentuk shadaqoh yang sunat terhadap harta yang belum mencapai nishab
tersebut. Tapi jangan sekali-kali mengubah hukum dari yang tidak
wajib menjadi wajib, karena ini akan memberatkan kaum muslimin
secara umum. Mungkin bagi kita tidak berat, tapi orang lain ?.
Sungguh telah binasa umat terdahulu karena mereka melampaui batas
dalam agama.

Salah satu dari sekian banyak hikmah adanya syarat nishab adalah
agar harta kaum muslimin itu terus berputar dalam perbelanjaan
mereka, dan tidak mengendap dalam jumlah yang besar pada satu atau
beberapa orang. Ini akan akan berdampak jumlah uang beredar akan
menjadi sedikit, kesenjangan semakin meningkat, dan lain-lain.

Bila seseorang itu memiliki harta dia boleh:
1. membelanjakan dijalan yang halal untuk keluarganya,
2. atau Mengusahakan harta itu dengan permodalan (misalnya
mudharabah dll)
3. atau Mengeluarkan zakat bila telah terpenuhi syarat-syaratnya
4. atau Menabungnya bila belum terpenuhi syarat-syaratnya, agar
kemudian bisa dikeluarkan zakatnya
5 Atau dia shadaqohkan/ berinfaq (sunnah hukumnya)

Oleh karena itu memperhitungkan gaji semata dalam satu tahun tanpa
memperhitungkan bentuk harta yang lainnya adalah cara yang keliru
dalam menghitung zakat maal. Zakat termasuk dalam ibadah, dan kaidah
dalam menjalankan ibadah adalah menjalankan segala perintah yang
dituntunkan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Dalam hal ini
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak memberikan contoh
ataupun tuntunan dalam memperhitungkan zakat maal dalam penghasilan
semata.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan bahwa zakat
barang tambang yang wajib dizakatkan adalah emas dan perak,
sedangkan tanaman yang wajib zakat adalah gandum, sya’ir, kurma, dan
zabib, dan tidak ada satupun Riwayat dari Rasulullah Shalallahu
Alaihi wa Sallam bahwa harta penghasilan adalah harta wajib zakat.
Jadi tidak ada dalil yang menerangkannya. Hitunglah berapa
penghasilan kita dalam satu tahun lantas dikurangi pengeluaran
itulah harta yang tersisa dalam dalam satu tahun, bandingkan dengan
nishab emas 85 gram, bila sama atau melebihinya maka wajib zakat,
jika tidak maka tidak perlu zakat, namun dengan bershadaqah juga
dapat membersihkan harta. Wallahu a’lam.
to be continued..fatwa2 seputar permasalahan zakat profesi

2 Comments»

  syifa oktora wrote @

thanks untuk infonya. semoga bermanfaat untuk orang lain

  risky wrote @

Thank u atas infonya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: